DJIA25706.71
LIVE-361.05(-1.39%)
NDX10754.59
LIVE87.89(0.82%)

Peraturan Pengadilan Terhadap Rencana Sydney Diprotes Karena kekhawatiran Virus


Friday, 5 June 2020 23:41 WIB

Global


c_740_198_16777215_00_images_assets_000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000australia.jpg

Pengadilan Australia berpihak pada polisi dalam putusan pada Jumat bahwa protes Black Lives Matter yang direncanakan untuk Sydney menimbulkan terlalu banyak risiko untuk penyebaran virus corona dan tidak dapat ditahan.

Ribuan orang diperkirakan akan melakukan aksi unjuk rasa di kota terbesar Australia pada Sabtu sore untuk menghormati George Floyd dan untuk memprotes kematian warga asli Australia dalam tahanan.

Namun Hakim Agung negara bagian New South Wales Des Fagan memutuskan rapat umum itu bukan pertemuan umum resmi. Fagan mengatakan dia mengerti bahwa demonstrasi itu dirancang untuk bertepatan dengan acara serupa di negara lain.

"Saya tidak mengurangi pentingnya masalah ini dan tidak ada yang akan menyangkal mereka dalam keadaan normal," katanya. "Tidak ada yang menyangkal mereka tetapi kita berbicara tentang situasi krisis kesehatan."

Di Sydney, pertemuan di luar ruangan dibatasi hingga 10 orang, sementara hingga 50 orang dapat pergi ke pemakaman, tempat ibadah, restoran, pub, dan kafe.

Perdana Menteri Negara Gladys Berejiklian mengatakan, para penyelenggara pada awalnya mengajukan protes yang jauh lebih kecil. Dia mengatakan para pengunjuk rasa tidak bisa menjamin protokol jarak sosial akan diikuti.

Sebelumnya pada Jumat, demonstran di ibu kota mengingatkan negara bahwa ketidaksetaraan rasial bukan masalah AS saja.

Penyelenggara reli Canberra yang menarik sekitar 2.000 demonstran membagikan masker dan pembersih tangan. Sebagian besar pengunjuk rasa menjaga jarak sosial yang disarankan tetapi lebih dekat untuk mendengar pidato. Pertemuan publik terbatas pada 20 di Canberra, tetapi polisi tidak melakukan intervensi.

Guru sekolah Wendy Brookman, seorang anggota masyarakat adat Butchulla, mengatakan Australia seharusnya tidak menerima bahwa lebih dari 430 penduduk asli Australia telah tewas dalam tahanan atau penjara polisi dalam tiga dekade terakhir.

Salah satu tanda pengunjuk rasa berbunyi "Saya tidak bisa bernafas" dan menggambar secara paralel antara kematian Floyd di AS pada 25 Mei dan pengalaman penduduk asli Australia. Kata-kata itu adalah yang terakhir diucapkan oleh Floyd dan seorang Australia asli, David Dungay, yang meninggal di rumah sakit penjara pada 2015 ketika ditahan oleh lima penjaga.

Sumber: VOA


RELATED NEWS

POPULAR NEWS

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.