DJIA22653.86
LIVE-26.13(-0.12%)
NDX8049.31
LIVE-32.35(-0.40%)

Minyak Sentuh $ 70 Karena Krisis di Timur Tengah Mengalami Ketakutan Akan Menggangu Pasokan


Monday, 6 January 2020 13:28 WIB

MinyakWTIBrent


c_740_198_16777215_00_images_assets_OIL_02122014_lifting_minyak.jpg

Minyak memperpanjang lonjakan dramatis di atas $ 70 per barel karena meningkatnya kekhawatiran antara AS dan Iran setelah pembunuhan salah satu jenderal paling kuat di Republik Islam itu.

Kontrak berjangka melanjutkan kenaikannya sebesar 3% pada hari Senin ketika Departemen Luar Negeri AS memperingatkan "risiko tinggi" serangan rudal di dekat pangkalan militer dan fasilitas energi di Arab Saudi. Harga mendapat dorongan lebih lanjut karena Presiden Donald Trump menegaskan kembali ancaman pembalasan jika Iran "melakukan apa saja" dan berjanji untuk memberikan sanksi berat terhadap Irak jika pasukan Amerika dipaksa untuk meninggalkan produsen OPEC terbesar kedua.

Perjalanan liar berlanjut untuk minyak ketika Washington dan Teheran memperdebatkan retorika perdagangan, meningkatkan kekhawatiran akan konflik yang lebih luas yang dapat mengganggu pasokan dari wilayah penghasil terpenting di dunia. Minyak mentah bertahan setinggi ini ketika fasilitas produksi Saudi diserang pada bulan September, menurunkan sekitar 5% dari output global.

Trump mengatakan dia siap untuk menyerang "secara tidak proporsional" dan menyerang lebih dari 50 lokasi jika Teheran membalas terhadap pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani. Negara Timur Tengah mengatakan mereka harus "menyelesaikan skor dengan AS" dan bahwa mereka tidak akan lagi mematuhi batas pengayaan uraniumnya. Pemungutan suara oleh parlemen Irak untuk mengusir pasukan AS dari negara itu memperdalam penurunan tersebut.

Brent berjangka naik sebanyak 3,1%, atau $ 2,14, ke level $ 70,74 di ICE Futures Europe dan berada di level $ 70,20 pada pukul 05:41 pagi di London. Kontrak naik 3,6% pada hari Jumat. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2% ke level $ 64,29 di New York Mercantile Exchange. (knc)

Sumber : Bloomberg


RELATED NEWS

POPULAR NEWS

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.