DJIA26252.24
LIVE49.51(0.19%)
NDX7707.43
LIVE-25.79(-0.33%)

Minyak Pangkas Penurunan Mingguan Terkait Kapal Perang AS Menjatuhkan Drone Iran


Friday, 19 July 2019 14:07 WIB

MinyakWTIBrent


c_740_198_16777215_00_images_assets_OIL2_blok-cepu-punya-cadangan-minyak-mentah-729-juta-barel-kapan-habisnya-u6ZhGAl0h9.jpg

Minyak menghentikan penurunannya selama empat hari terakhir setelah kapal perang Amerika menjatuhkan pesawat tak berawak Iran di dekat Selat Hormuz, memicu kekhawatiran aliran minyak mentah dari Timur Tengah yang mungkin terganggu.

Kontrak berjangka naik sebanyak 1,9% di New York, memangkas penurunan mingguan tertajam sejak akhir Mei lalu. AS "segera menghancurkan" pesawat tak berawak yang mendekati USS Boxer, kata Presiden Donald Trump, Kamis di Gedung Putih. Iran dapat menutup Selat Hormuz tetapi tidak ingin melakukannya karena saluran air dan Teluk Persia adalah jalur hidupnya, Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif mengatakan dalam sebuah wawancara pada hari Rabu.

Minyak masih turun sekitar 7% minggu ini terkait kekhawatiran tentang penurunan permintaan global karena pemotongan aliran minyak mentah Timur Tengah. Trump pada hari Selasa menegaskan bahwa ia dapat mengenakan tarif tambahan pada Beijing, sementara pertumbuhan ekonomi China melambat ke laju terlemah dalam hampir tiga dekade pada kuartal kedua dan stok bahan bakar Amerika secara tak terduga bertambah.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik 55 sen, atau 0,8%, ke level $ 55,75 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 7:41 pagi di London setelah naik sebanyak $ 1,06 sebelumnya. Kontrak kehilangan $ 1,48 menjadi $ 55,30 pada hari Kamis, penutupan terendah sejak 19 Juni.

Brent untuk penyelesaian September naik 81 sen ke level $ 62,74 per barel di ICE Futures Europe Exchange. Ini turun 2,7% ke level $ 61,93 pada hari Kamis dan juga ditetapkan untuk kerugian mingguan terbesar sejak akhir Mei. Minyak mentah acuan global diperdagangkan dengan premi $ 6,84 kepada WTI untuk bulan yang sama. (knc)

Sumber : Bloomberg


RELATED NEWS

POPULAR NEWS

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.