DJIA22653.86
LIVE-26.13(-0.12%)
NDX8049.31
LIVE-32.35(-0.40%)

Minyak Pangkas Rally 3 Harinya Saat Rig AS Melonjak Untuk Pertama Kalinya di 2019


Monday, 28 January 2019 19:41 WIB

MinyakWTIBrent


c_740_198_16777215_00_images_assets_OIL2_PO18_Crude_oil_jpg_2409316f.jpg

Minyak turun di bawah level $ 53 per barel karena jumlah rig Amerika naik untuk pertama kalinya pada tahun ini, menandakan peningkatan lebih lanjut dalam produksi minyak mentah negara itu yang sedang berkembang.

Kontrak berjangka di New York turun sebanyak 2,2 persen setelah naik 2,1 persen selama tiga sesi sebelumnya. Jumlah rig yang menargetkan minyak naik 10 menjadi 862 pada minggu lalu, menurut laporan dari Baker Hughes, karena kenaikan harga minyak mentah mendukung optimisme. Di anggota OPEC Venezuela, Presiden Nicolas Maduro meninggalkan keputusannya untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan AS, ketika ia dan pemimpin Majelis Nasional Juan Guaido keduanya mencari dukungan dari angkatan bersenjata negara itu.

Harga minyak telah melonjak 16 persen pada tahun ini karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya mulai memangkas produksi untuk mengurangi kekhawatiran atas kelebihan pasokan. Namun demikian, rekor produksi Amerika, meningkatnya stok dan perang perdagangan AS-Tiongkok yang berkelanjutan telah membatasi kenaikan. Pembicaraan antara dua ekonomi terbesar dunia pada akhir pekan ini dapat menjadi katalis bagi minyak mentah untuk menembus kisaran perdagangan sempit baru-baru ini.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Maret turun sebanyak $ 1,19 di New York Mercantile Exchange, dan turun 99 sen ke level $ 52,70 per barel pada pukul 10:48 pagi waktu London. Kontrak naik 56 sen menjadi $ 53,69 pada hari Jumat.

Brent untuk penyelesaian bulan Maret turun $ 1,06 menjadi $ 60,58 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, dan diperdagangkan pada level $ 7,87 premium untuk minyak WTI. Minyak mentah acuan global bertambah 55 sen menjadi $ 61,64 pada hari Jumat. (knc)

Sumber : Bloomberg


RELATED NEWS

POPULAR NEWS

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.