DJIA27219.52
LIVE35.37(0.13%)
NDX7892.96
LIVE-24.38(-0.31%)

Trump Ingin Rusia Kembali ke Kelompok G7


Thursday, 22 August 2019 17:14 WIB

Global


c_740_198_16777215_00_images_assets_Global6_00donald-trump5.jpg

Presiden Amerika Donald Trump, Rabu (21/8), mengatakan, ia ingin Rusia kembali dimasukkan ke dalam kelompok tujuh negara maju, walaupun Rusia masih menduduki Semenanjung Krimea.

Rusia dikeluarkan dari kelompok itu karena menganeksasi Krimea pada 2014. Trump tampaknya tidak peduli bahwa Rusia menganggap Krimea sebagai kawasannya, dan justru menyalahkan Presiden Barack Obama atas pencaplokan Krimea.

“Rusia mengambil alih Krimea dalam masa jabatan Obama, bukan dalam masa jabatan saya. Faktanya, Putin sama sekali mengalahkan Obama dalam masalah Krimea dan soal-soal lain. Putin menunjukkan ia lebih pandai dari Obama, dan karena itu Obama marah dan mengeluarkan Rusia dari kelompok G-8, yang sekarang menjadi G7,” kata Trump.

G7 mencakup Amerika, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang dan Inggris. Dana Moneter Internasional menyebut ke-7 negara maju itu menguasai 58 persen kekayaan bersih dunia. China adalah negara yang perekonomiannya nomor dua setelah Amerika, tapi tidak termasuk dalam G7, sedangkan Rusia tercatat dalam ranking ke-12.

Gedung Putih mengatakan, Trump dan Presiden Perancis Emmanuel Macron sepakat bahwa Rusia harus diundang ke pertemuan G7 tahun 2020 yang akan diadakan di Amerika. Tapi Macron, Rabu, menentang kembalinya Rusia ke dalam kelompok itu tanpa penyelesaian masalah Krimea, disamping banyaknya korban warga Ukraina yang tewas dalam konflik dengan pemberontak yang didukung Rusia.

“Saya kira, mengundang Rusia kembali ke dalam kelompok itu hanya akan menunjukkan kelemahan G7, suatu kesalahan strategis, karena itu menunjukkan kita membenarkan tindakannya yang keliru itu.” Kata Macron, krisis di Ukraina harus diselesaikan sebelum Rusia bisa kembali ke dalam kelompok G7.

Sumber : VOA


RELATED NEWS

  • China, Kamis (12/9) terus menunjukkan iktikad baik yang diperlihatkannya belakangan ini dalam sengketa perdagangannya dengan Amerika Serikat, sementara dua ekonomi terbesar dunia ini bersiap melakukan...

POPULAR NEWS

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.