DJIA25886.01
LIVE306.62(1.20%)
NDX7604.11
LIVE119.22(1.59%)

China Minta AS "Koreksi" Sanksi-Sanksi terhadap Iran


Friday, 19 July 2019 23:56 WIB

Global


c_740_198_16777215_00_images_assets_Global6_20190719142057.jpg

China mendesak Washington, Jumat (19/7) agar mengoreksi sanksi-sanksi yang diberlakukan terhadap berbagai perusahaan China yang dituduh membantu Iran mendapatkan material untuk program nuklirnya.

Tekanan Amerika terhadap Iran dan “yurisdiksi lengan panjangnya” hingga ke perusahaan-perusahaan di negara ke-tiga merupakan “akar penyebab” ketegangan dengan Teheran, kata seorang juru bicara kementerian luar negeri China.

“China secara konsisten dan tegas menentang pemberlakuan sanksi-sanksi sepihak Amerika dan apa yang disebut ‘yurisdiksi lengan panjang’ terhadap negara-negara lain, termasuk China,” kata juru bicara itu, Geng Shuang. “Kami mendesak Amerika Serikat agar segera mengoreksi pendekatan yang keliru ini dan dengan sungguh-sungguh menghormati hak-hak dan kepentingan sah semua pihak,” lanjutnya.

Departemen Keuangan Amerika, Kamis (18/7) menyatakan telah memberlakukan sanksi-sanksi terhadap apa yang disebutnya sebagai jejaring perusahaan dan agen-agen cangkang. Disebutkan bahwa perusahaan tersebut berbasis di Iran, China dan Belgia. Departemen Keuangan tidak memberikan rincian tetapi menyatakan pembelian itu melanggar larangan PBB mengenai material yang dapat digunakan untuk program nuklir Iran.

Geng mengatakan Beijing menentang proliferasi nuklir, tetapi menolak sanksi-sanksi sepihak Washington.

“Kami menentang keras aktivitas proliferasi apapun, selalu menerapkan dengan ketat kewajiban internasional yang relevan dan tetap berkomitmen pada nonproliferasi dan kerjasama internasional,” kata Geng.

Sumber : VOA


RELATED NEWS

  • Korea Utara telah meluncurkan lagi serangkaian senjata jarak pendek ke perairan di lepas pantai timurnya, lapor militer Korea Selatan. Ini tampaknya menunjukkan luapan kemarahan terbaru Pyongyang atas...
  • Dua pejabat intelijen Washington mengakhiri jabatannya pada Kamis (15/8), meninggalkan badan intelijen nasional AS di tangan pejabat sementara, Presiden AS Donald Trump pun melanjutkan seleksi untuk k...

POPULAR NEWS

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.