DJIA25886.01
LIVE306.62(1.20%)
NDX7604.11
LIVE119.22(1.59%)

PM Australia Pertimbangkan untuk Akui Yerusalem sebagai Ibukota Israel


Wednesday, 17 October 2018 00:08 WIB

Australia Perdana Menteri


c_740_198_16777215_00_images_assets_TOKOH2_image984649464.jpg

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan dia mempertimbangkan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan Australia ke sana dari Tel Aviv.

Perdana Menteri Morrison mengatakan kepada para wartawan hari Selasa (16/10) dia “berpikiran terbuka” tentang saran yang diberikan oleh Dave Sharma, mantan duta besar Australia untuk Israel. Presiden Amerika Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel Desember lalu, mengakhiri kebijakan lama bahwa status Yerusalem harus diselesaikan sebagai bagian dari solusi dua negara antara Israel dan Palestina. Kedutaan Besar Amerika secara resmi dibuka di Yerusalem pada bulan Mei.

Sharma, anggota Partai Liberal konservatif yang memerintah pimpinan Morrison, sedang menghadapi pemilihan sela untuk parlemen pada Sabtu ini di sebuah distrik di Sydney yang dihuni oleh banyak warga Yahudi. Jika Sharma kalah, kaum Liberal akan kehilangan mayoritasnya yang hanya unggul satu kursi di DPR.

Penny Wong, seorang anggota parlemen dari oposisi Partai Buruh, menuduh perdana menteri menempatkan politik di depan kepentingan nasional jangka panjang Australia.

VOA news


RELATED NEWS

  • Korea Utara telah meluncurkan lagi serangkaian senjata jarak pendek ke perairan di lepas pantai timurnya, lapor militer Korea Selatan. Ini tampaknya menunjukkan luapan kemarahan terbaru Pyongyang atas...
  • Dua pejabat intelijen Washington mengakhiri jabatannya pada Kamis (15/8), meninggalkan badan intelijen nasional AS di tangan pejabat sementara, Presiden AS Donald Trump pun melanjutkan seleksi untuk k...

POPULAR NEWS

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.