DJIA25162.41
LIVE-137.51(-0.54%)
NDX7354.66
LIVE-92.51(-1.24%)

Inflasi Inggris Terus Stabil Setelah BOE Peringatkan Kenaikan Suku Bunga


Tuesday, 13 February 2018 17:01 WIB

Ekonomi inggrisCPI U.K


c_740_198_16777215_00_images_assets_12Inflasiinggris-660x330.jpg

Inflasi di Inggris berada di angka 3 persen pada bulan Januari karena tekanan dari bahan bakar dan harga pangan diimbangi oleh biaya atraksi seperti kebun binatang dan perkebunan.

Harga konsumen turun 0,5 persen dari Desember, seperti yang terjadi pada Januari 2017, menurut laporan dari Kantor Statistik Nasional pada hari Selasa. Inflasi inti tahunan meningkat menjadi 2,7 persen dari sebelumnya 2,5 persen.

Bank of England (BoE) memperkirakan inflasi akan mereda pada tahun ini karena pengaruh penghentian sterling di tahun 2016 memudar. Itu adalah kabar baik bagi konsumen yang telah melihat kenaikan harga makan ke dalam daya belinya selama tahun lalu.

Tapi yang penting bagi pengatur tingkat adalah inflasi yang dihasilkan di dalam negeri, dan pejabat sekarang menilai ada sedikit cadangan yang tersisa dalam ekonomi.

Pasar harga di sekitar tiga kenaikan suku bunga selama tiga tahun ke depan, dengan awalan pada bulan Mei. Bahkan itu akan meninggalkan "kelebihan permintaan" dan inflasi di atas target 2 persen, pembuat kebijakan Gertjan Vlieghe mengatakan pada hari Senin.

Harga bahan bakar otomatis naik tipis pada bulan lalu dibandingkan tahun sebelumnya, dan harga pangan turun dibandingkan dengan tidak ada perubahan pada bulan Januari 2017. Tekanan meningkat dari sektor rekreasi dan budaya, di mana harga turun kurang dari setahun sebelumnya. Ada juga beberapa tekanan dari harga pakaian.

Inflasi harga produsen terus melambat di bulan Januari, dengan harga input menguat 4,7 persen pada tahun ini dan harga output naik 2,8 persen. Februari mungkin akan melihat perlambatan lebih lanjut karena harga minyak menurun.

Pertumbuhan harga rumah tahunan meningkat menjadi 5,2 persen, didorong oleh Skotlandia dan Inggris barat daya. London kembali menjadi kawasan terlemah, dengan nilai naik 2,5 persen. (knc)

Sumber : Bloomberg


RELATED NEWS

POPULAR NEWS

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.