DJIA25679.90
LIVE-84.10(-0.33%)
NDX7376.70
LIVE-126.98(-1.69%)

Pengecer Inggris Merosot Tajam Karena Jeda Black Friday Seiring Penjualan Turun 1,5%


Friday, 19 January 2018 16:47 WIB

Ekonomi inggrisUK Retail Sales


c_740_198_16777215_00_images_assets_12Retail24295477.jpg

Penjualan eceran Inggris di bulan Desember mengalami penurunan terbesar dalam 18 bulan terakhir karena peritel mengalami jeda iklan perdana Black Friday.

Volume barang yang dijual di toko-toko dan online turun 1,5 persen dari bulan November, ketika potongan harga yang besar membuat penjualan melonjak sebesar 1 persen, menurut laporan dari Kantor Statistik Nasional pada hari Jumat. Itu adalah penurunan terbesar sejak Juni 2016 lalu dan yang paling banyak untuk bulan Desember dalam tujuh tahun terakhir. Penjualan di luar bahan bakar mobil turun 1,6 persen.

Penjualan barang rumah tangga merosot 5,3 persen dan penjualan pakaian turun 1 persen. Hanya department store yang mengalami peningkatan, dengan penjualan naik 0,6 persen.

Black Friday telah mengganggu musim belanja Natal sejak hiruk pikuk tawar-menawar Amerika diperkenalkan di Inggris pada tahun 2010. Pembelian yang dilakukan sebelumnya pada bulan Desember diajukan, dan pengecer mengeluhkan bahwa tekanan untuk menjaga harga tetap rendah adalah margin yang paling rendah sepanjang tahun.

Pada saat yang sama toko menghadapi latar belakang ekonomi yang meragukan, dengan menekan standar hidup dari inflasi dan tingkat suku bunga yang lebih tinggi, berarti kepercayaan konsumen tetap rendah.

Sejumlah pengecer telah berhati-hati pada tahun depan, termasuk Marks & Spencer Group Plc, yang melaporkan penurunan penjualan selama periode Natal.

Pada kuartal keempat penjualan naik 0,4 persen, setengah laju terlihat dalam tiga bulan sebelumnya. Ini berarti penjualan eceran hampir tidak memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) pada periode tersebut.

Penjualan kuartalan dari tahun sebelumnya berada pada pertumbuhan hanya 1 persen, pembacaan terburuk sejak Mei 2013 silam. (knc)

Sumber : Bloomberg


RELATED NEWS

POPULAR NEWS

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.