DJIA29348.10
LIVE0(0.00%)
NDX9173.73
LIVE0(0.00%)

Minyak Rebound Seiring Sinyal Irak Mengurangi Pemotongan Menjelang Pertemuan OPEC+


Monday, 2 December 2019 14:19 WIB

MinyakWTIBrent


c_740_198_16777215_00_images_assets_OIL2_103746743-GettyImages-510774376.530x298.jpg

Minyak rebound dari penurunan mingguan terbesar sejak Oktober lalu karena Irak mengisyaratkan OPEC + akan mempertimbangkan pengurangan produksi lebih dalam pada pertemuan minggu ini, bertentangan dengan harapan, dan ekonomi China menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Kontrak berjangka melonjak sebanyak 1,9% di New York setelah jatuh 5,1% pada hari Jumat di tengah indikasi OPEC + tidak akan melakukan pengurangan pasokan lebih banyak. Namun, Menteri Perminyakan Irak Thamir Ghadhan mengatakan kepada wartawan, Minggu, mungkin ada pengurangan tambahan sekitar 400.000 barel per hari. Indeks sektor manufaktur China melonjak secara tak terduga pada bulan November, menunjukkan pemulihan aktivitas.

Minyak membatasi kenaikan bulanan kedua pada November di tengah tanda-tanda Beijing dan Washington mendekati kesepakatan perdagangan awal, bahkan setelah AS mengeluarkan undang-undang yang menyatakan dukungan bagi para pemrotes di Hong Kong. Arab Saudi mungkin akan menunjukkan kepada Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya pada pertemuan di Wina bahwa mereka tidak lagi bersedia untuk mengkompensasi ketidakpatuhan anggota lain, menurut orang yang dikenal.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari naik 80 sen ke level $ 55,97 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 7:07 pagi waktu London. Harga ditutup pada level $ 55,17 pada hari Jumat. Tidak ada penutupan harga pada hari Kamis karena hari libur di AS dan semua transaksi dipesan pada hari Jumat.

Brent untuk penyelesaian Februari naik 77 sen, atau 1,2%, ke level $ 61,19 per barel di London ICE Futures Europe Exchange. Kontrak Januari yang berakhir hari Jumat setelah turun 2,3%. Minyak mentah patokan global diperdagangkan pada $ 5,27 premium untuk WTI pada bulan yang sama. (knc)

Sumber : Bloomberg


RELATED NEWS

POPULAR NEWS

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.