DJIA28135.38
LIVE3.33(0.01%)
NDX8487.71
LIVE20.81(0.25%)

Minyak Menguat Setelah AS, Data Tiongkok Meningkatkan Permintaan Outlook


Monday, 4 November 2019 18:28 WIB

MinyakWTIBrent


c_740_198_16777215_00_images_assets_OIL2_08791ab0-dad0-11e3-9a27-00144feabdc0.jpg

Minyak mempertahankan kenaikan terbesarnya dalam hampir tujuh minggu terakhir setelah membaiknya AS dan data ekonomi China membantu prospek permintaan dan Saudi Aramco mengatakan akan terus maju dengan penawaran umum perdana yang telah lama ditunggu-tunggu.

Kontrak berjangka naik 0,8% di New York setelah melonjak pada hari Jumat. Sekretaris Perdagangan A.S. Wilbur Ross bertemu dengan Perdana Menteri China Li Keqiang pada Senin sore di KTT regional di Bangkok, seseorang yang akrab dengan diskusi itu mengatakan. Itu muncul ketika optimisme tumbuh bahwa kesepakatan perdagangan akan tercapai setelah data bullish dari Tiongkok dan AS pada hari Jumat. Aramco, perusahaan minyak terbesar di dunia, mengumumkan niatnya untuk mendaftar pada hari Minggu, lebih dari tiga tahun setelah Putra Mahkota Mohammed bin Salman pertama kali mengemukakan gagasan itu.

Pasar minyak mengambil hati dari tanda-tanda kekuatan di dua ekonomi terbesar dunia ketika negara-negara bergerak lebih dekat menuju kesepakatan perdagangan parsial, meskipun ada keraguan apakah kesepakatan yang lebih komprehensif dapat dicapai. Hedge fund membatalkan taruhan terhadap minyak mentah Amerika untuk pertama kalinya dalam enam minggu, tetapi spekulasi jangka pendek tetap hampir tiga kali lipat dari mereka pada pertengahan September, menurut data yang dirilis hari Jumat.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember naik 47 sen ke level $ 56,67 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 10:42 pagi di London. Penyelesaian Brent untuk bulan Januari naik 56 sen ke level $ 62,25 per barel di ICE Futures Europe Exchange yang berbasis di London, tertinggi dalam enam minggu. Minyak mentah acuan global diperdagangkan pada premi $ 5,51 untuk WTI pada bulan yang sama. (knc)

Sumber : Bloomberg


RELATED NEWS

POPULAR NEWS

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.