DJIA27025.88
LIVE23.90(0.09%)
NDX7942.14
LIVE21.93(0.28%)

Minyak Terus Mengalami Kenaikan Terkait Krisis di Venezuela


Wednesday, 30 January 2019 18:51 WIB

MinyakWTIBrent


c_740_198_16777215_00_images_assets_Oil3_Oil-Reuters-2-3.jpg

Minyak mengalami kenaikan di New York setelah melonjak tajam dalam lebih dari satu minggu terakhir di tengah kekhawatiran bahwa sanksi AS terhadap Venezuela akan menimbulkan gangguan pasar yang signifikan.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka naik 0,8 persen setelah menguat 2,5 persen pada hari Selasa. Venezuela sedang mempertimbangkan untuk menyatakan pemaksaan dengan AS, sebuah sinyal yang mungkin menghentikan pengiriman, setelah Gedung Putih secara efektif melarang perusahaan-perusahaan Amerika membeli minyak mentahnya. Larangan akan berarti bahwa 500.000 barel yang dikirim ke AS setiap hari oleh anggota OPEC perlu diarahkan kembali ke tempat lain, kata Societe Generale SA.

Minyak diperdagangkan dalam kisaran paling ketat dalam empat bulan terakhir karena Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya memangkas produksinya untuk melawan kelebihan pasokan global yang didorong oleh rekor produksi AS. Krisis di Venezuela sejauh ini hanya berdampak terbatas pada harga karena tidak mengubah gambaran penawaran dan permintaan secara keseluruhan. Memulihkan output negara bisa memakan waktu bertahun-tahun, menurut Jeff Currie, ketua penelitian komoditas di Goldman Sachs Group Inc.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Maret naik 40 sen ke level $ 53,71 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 11:02 siang di London. Kontrak menguat $ 1,32, atau 2,5 persen, menjadi ditutup pada level $ 53,31 per barel pada hari Selasa, yang merupakan kenaikan terbesarnya sejak 18 Januari.

Brent untuk penyelesaian bulan Maret adalah 51 sen lebih tinggi pada level $ 61,84 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Kontrak meningkat $ 1,39 menjadi $ 61,32 di sesi sebelumnya. Minyak mentah acuan global berada pada premi $ 8,8 untuk minyak WTI. (knc)

Sumber : Bloomberg


RELATED NEWS

POPULAR NEWS

DISCLAIMER

Seluruh materi atau konten yang tersaji di dalam website ini hanya bersifat informatif saja, dan tidak dimaksudkan sebagai pegangan serta keputusan dalam investasi atau jenis transaksi lainnya. Kami tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang timbul dari penyajian konten tersebut. Semua pihak yang mengunjungi website ini harus membaca Terms of Service (Syarat dan Ketentuan Layanan) terlebih dahulu dan dihimbau untuk melakukan analisis secara independen serta memperoleh saran dari para ahli dibidangnya.